Minggu, 18 Desember 2016

Motivasi, Kepuasan, dan Memimpin Karyawan



BAB I
PENDAHULUAN

     A.      Latar Belakang

Setiap di dalam lingkungan kerja kita selalu berhadapan dengan kondisi mental yang lemah dan pada saat itu kita bisa mendapatkan masukan atau saran yang dapat membangkitkan semangat kita kembali. Dalam kehidupan ini kita selalu memotivasi diri kita untuk lebih dari orang lain, tidak hanya di dunia kerja saja kita harus di motivasi agar menjadi lebih baik tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
    Kegiatan ini, mendorong mental kita untuk lebih maju lagi. Motivasi berasal dari kata movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pada zaman sekarang organisasi-organisasi semakin bermunculan dan berkembang pesat di Indonesia. Dengan munculnya organisasi-organisasi baru maka banyak organisasi yang mencari tenaga tenaga kerja atau pegawai baru yang berkompeten, karena pegawai yang berkompeten merupakan asset penting yang wajib dimiliki dan dijaga bagi suatu organisasi untuk mencapai tujuan. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan yaitu, meningkatkan kinerja pegawai, dengan praktek kepemimpinan atau gaya kepemimpinan yang handal dan motivasi berprestasi yang tinggi dan terarah.
Setiap pemimpin pada dasarnya memiliki perilaku yang berbeda dalam memimpin para pengawainya, perbedaan perilaku para pemimpin disebut dengan gaya kepemimpinan. Kepemimpinan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan motivasi, karena keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan pegawainya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sangat tergantung kepada kewibawaan pemimpinnya, kemampuan pemimpin dalam menciptakan motivasi terhadap pegawainya, dan menciptakan motivasi terhadap kolega maupun atasan pemimpin itu sendiri.
Kurang adanya peranan pimpinan dalam menciptakan komunikasi yang harmonis dan memberikan pembinaan terhadap pegawai, akan menyebabkan tingkat kinerja pegawai yang rendah. Demikian halnya dengan kurangnya motivasi pegawai untuk masuk kerja dan sikap malas-malasan pegawai dalam bekerja, yang akan menyebabkan kinerja pegawai rendah. Tingkat kinerja yang belum optimal disebabkan karena kurangnya motivasi yang diberikan oleh pemimpin. Motivasi yang jarang diberikan oleh pemimpin menyebabkan semangat pegawai rendah, dan berakibat menurunkan kinerja pegawai.[1]

B.       Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, didapat rumusan masalah sebagai berikut:
1.         Bagaimana memotivasi karyawan?
2.         Bagaimana kepuasan karyawan?
3.         Bagimana memimpin karyawan?

C.      Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1.         Memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Pengantar Bisnis
2.         Memahami tentang Motivasi Karyawan
3.         Memahami tentang Kepuasan Karyawan
4.         Memahami tentang Memimpin Karyawan




BAB II
PEMBAHASAN

A.      MOTIVASI KARYAWAN

1.         Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer  membagikan pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan.
Perusahaan tidak hanya mengharapkan karyawan mampu, cakap dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Kemampuan dan kecakapan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan jika mereka tidak mau bekerja giat.
Di bawah ini merupakan beberapa pengertian dari motivasi yaitu:
1.         Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2005:143).
”Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.
2.          Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2007:93).
“Motivasi adalah kondisi yang menggerakan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motifnya”.
3.          Menurut Marihot Tua Efendi Hariandja (2002:321).
“Motivasi adalah faktor-faktor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang”.
4.        Menurut T. Hani Handoko (2003:252).
“Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan”.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan dalam mengarahkan individu yang merangsang tingkah laku individu serta organisasi untuk melakukan tindakan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.[2]
2.         Teori dan Konsep Motivasi Dasar

Ada tiga jenis teori motivasi, yaitu: teori klasik, teori perilaku awal, dan teori motivasi kontemporer.
a.       Teori Klasik
Teori klasik ditemukan oleh Frederick W. Taylor. Ia mengembangkan teori ini ketika ia bekerja di Bethlehem Steel. Di sana ia mencoba menguji hipotesisnya yang menduga bahwa sebagian besar orang bekerja hanya untuk memperoleh uang. Ia kemudian menerapkan sistem penggajian yang baru, yaitu besarnya gaji yang ditentukan oleh besarnya output yang dapat dihasilkan. Apabila seorang karyawan mampu menghasilkan output melebihi kuota yang telah ditentukan, maka gajinya akan bertambah sesuai dengan kelebihan output­-nya tersebut. Selanjutnya, teori tersebut dikenal dengan sebutan the piece-rate system. Ternyata, hasil dari sistem ini sangat mencengangkan. Pendapatan rata-rata Bethlehem Steel meningkat cukup pesat, dari $1.15 menjadi $1.88.[3]

b.      Teori Perilaku Awal (early behavioral theory)
Teori perilaku awal terdiri dari Penelitian Hawthrone, Teori X dan Teori Y, Tingkat Kebutuhan Ala Maslow, dan Teori Herzberg.
1)      Penelitian Hawthorne
Penelitian Hawthorne adalah penelitian yang dilakukan di Pabrik Hawthrone milik Western Electric Company di Chicago. Antara tahun 1927 dan 1932, Elton Mayo melakukan dua eksperimen yang tujuannya adalah untuk menentukan dampak lingkungan kerja terhadap produktivitas karyawan.
   Pada eksperimen pertama, ia menggunakan dua kelompok karyawan yang sedang berproduksi. Cahaya lampu pada salah satu kelompok divariasi dan pada kelompok yang kedua tidak. Kemudian produktivitas kedua kelompok diukur untuk menentukan variasi penerangan. Hasil penelitian ini di luar dugaan, kedua kelompok karyawan tersebut sama-sama menunjukkan peningkatan produktivitas kerja. Variasi cahaya ternyata tidak menurunkan produktivitas para karyawan, bahkan sampai ketika penerangan hanya seterang cahaya bulan.
   Eksperimen kedua berfokus pada efektivitas dalam meningkatkan keluaran (output)  karyawan yang bekerja pada piece-rate system. Peneliti menduga bahwa keluaran akan meninggkat karenakaryawan yang gesit akan menekan karyawan yang lamban untuk berproduksi lebih cepat. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Keluaran tetap konstan, tidak terpengaruh oleh standar yang ditentukan oleh manajemen. Studi Hawthrone menunjukkan bahwa faktor-faktor manusiawi paling tidak sama pentingnya dalam tingkat upah dalam hubungannya dengan pemberian motivasi. Dari penelitian Hawthorne dan penelitian-penelitian lain lahirlah human relations movement dalam manajemen. Pernyataannya adalah sederhana: para karyawan yang merasa senang dan puas dengan pekerjaannya termotivasi untuk berkinerja lebih baik.
2)      Teori X dan Teori Y
Konsep dari teori ini dajukan oleh Douglas McGregor dalam bukunya The Human Side Of Enterprise. Teori X mengasumsikan bahwa karyawan tidak senang bekerja dan akan bekerja secara efektif jika berada pada lingkungan kerja yang dikontrol dengan baik. Berdasarkan Teori X, maka: a) Orang-orang tidak suka bekerja dan berusaha untuk menghindarinya, b) Karena orang tidak suka bekerja, maka manajer harus memaksa, mengontrol, dan sering melakukan ancaman-ancaman kepada para karyawan guna memenuhi target perusahaan, c) Para karyawan membutuhkan pemimpin karena mereka hanya memiliki sedikit ambisi dan tanggung jawab. Berlandaskan pada asumsi ini, perusahaan harus memperketat pengawasan lingkungan kerja.
   Teori Y mengasumsikan hal yang bertentangan dangan Teori X. Teori Y mengasumsikan bahwa para karyawan sangat bertanggung jawab dan berusaha memenuhi target perusahaan jika dengan memenuhi target mereka akan mendapatkan penghargaan. Berdasarkan Teori Y, maka:
·         Secara alamiah, orang-orang tidak benci bekerja, bekerja adalah hal yang penting dalam hidupnya.
·         Karyawan akan bekerja uantuk mencapai tujuan sesuai dengan komitmen mereka.
·         Karyawan akan mempunyai komitmen untuk mencapai tujuan jika ada kejelasan bahwa tercapainya tujuan akan memberikan penghargaan pribadi.
·         Karyawan sering mencari dan dengan senang hati menerima pertanggungjawaban.
·         Karyawan mempunyai potensi untuk membantu menetapkan tujuan organisasi.
·         Pada umumnya, perusahaan tidak sepenuhnya menggunakan sumber daya manusia yang dimilikinya.

The human relations movement dan Teori X dan Y meningkatkan kepedulian manajer terhadap pentingnya faktor sosial dalam dunia kerja. Motivasi kerja adalah sesuatu yang kompleks dan dinamis yang tidak memiliki trik-trik khusus dalam menghadapinya.
3)      Tingkat Kebutuhan Ala Maslow
Konsep ini dikembangkan oleh seorang psikolog bernama Abraham Maslow. Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi lima tipe dasar. Masing-masing tipe dasar memiliki tingkatan yang berbeda-beda dan untuk memenuhi serangkaian kebutuhan harus terlebih dahulu memenuhi serangkaian kebutuhan pada tingkatan yang lebih rendah.
   Kebutuhan menimbulkan motivasi. Setelah seseorang memenuhi serangkaian kebutuhannya, maka kebutuhan-kebutuhan tersebut akan berkurang dalam memberikan motivasi bagi orang tersebut. Misalnya, jika seseorang sudah merasa aman dalam pekerjaannya dan kebutuhan keamanan finansial orang tersebut telah terpenuhi, maka kesempatan untuk memperoleh keamanan finansial yang lebih baik lagi, misalnya memperoleh proyek jangka panjang, akan kurang memberikan motivasi bagi orang tersebut dibandingkan dengan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sosial atau harga diri, seperti misalnya bekerja sebagai anggota dewan penasihat.
4)      Teori Herzberg
Pada tahun 1950, Frederick Herzberg mengembangkan sebuah teori yang disebut motivation-hygiene theory. Dalam teori yang didapatnya dari hasil wawancaranya dengan kira-kira dua ratus akutan dan teknisi di Pittsburgh tersebut, Herzberg menjelaskan bahwa antara satisfaction berada pada satu dimensi yang berbeda. Satisfaction berada pada satu dimensi dengan no satisfaction, sedangkan dissatisfaction berada pada satu dimensi dengan no dissatisfaction.[4]

c.       Teori Motivasi Kontemporer (Contemporary Motivation Theory)
Teori motivasi kontemporer menerangkan bagaimana atau mengapa motivasi dapat berkembang. Ada 2 teori motivasi kontemporer, yaitu teori ekuitas dan teori kepentingan.
1)      Teori Ekuitas (equity theory)
Equity theory adalah teori tentang motivasi yang membandingkan antara perlakuan perusahaan terhadap dirinya dengan perlakuan perusahaan terhadap yang lain. Misalnya, ketika Adib, seorang lulusan perguruan tinggi, menjadi pegawai baru di sebuah perusahaan, ia mendapatkan gaji awal sebesar $75 dan sebuah mobil kualitas menengah. Selanjutnya, Adib cenderung akan membandingkan apa yang ia dapat dengan sesama karyawan dalam tingkatan yang sama dengannya, baik yang bekerja di dalam perusahaan itu maupun yang bekerja di lain perusahaan yang serupa. Ketika apa yang diperolenya sama dengan pegawai lain yang setingkat dengnnya, maka ia akan merasa mendapatkan keadilan dan dapat bekerja dengan baik di perusahaan itu. Sebaliknya, jika apa yang diperolehnya ternyata lebih rendah dari pegawai setingkatnya, maka ia akan merasa tidak nyaman bekerja di perusahaan itu, dan tidak menutup kemungkinan ia akan meninggalkan pekerjaannya tersebut.
   Sesama lulusan perguruan tinggi strata 1 (S-1) dapat memeroleh gaji yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan pengalaman yang dimilikinya. Ketika ada dua orang yang sama-sama lulusan S-1 bekerja dalam perusahaan yang sama dan salah satunya memiliki pengalaman yang lebih, entah pernah mengikuti training atau pernah bekerja dalam posisi yang sama sebelumnya, maka suatu hal yang adil jika pegawai tersebut mendapatkan gaji yang lebih banyak, sehingga keduanya akan termotivasi dengan baik.
2)      Teori kepentingan (Expectancy Theory)
Teori ini dikembangan oleh Victor Vroom. Teori kepentingan mengasumsikan bahwa motivasi akan timbul berdasarkan besarnya kemungkinan seseorang untuk memperoleh sesuatu dan seberapa besar kesempatan yang dimilikinya untuk dapaat mencapti harapannya tersebut. Misalnya ada dua orang kandidat  yang akan dicalonkan untuk menjadi ketua kelompok paduan suara mahasiswa, Andreas dan Muja. Kedua calon ketua tersebut sama-sama pandai mengorganisir teman-temannya dan sangat cekatan dalam menjalankan tugas. Tetapi Andreas tidak tertarik untuk menduduki posisi sebagai ketua karena menurut pertimbangannya dengan menjadi ketua, waktu belajarnya akan menjadi semakin sedikit. Sementara Muja, memiliki keinginan yang kuat untuk terus maju menjadi ketua. Ia ingin mendapatkan pengalaman dan relasi yang lebih luas. Berdasarkan teori kepentingan, Andreas dikatakan tidak memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi seorang ketua, sementara Muja memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi seorang ketua.[5]

3.         Meningkatkan Motivasi Karyawan
Karyawan berperan penting dalam operasi perusahaan. Motivasi diperlukan karyawan untuk meningkatkan atau memperbaiki kinerjanya.
a.       Management by Objectives (MBO)
MBO adalah teknik untuk meningkatkan motivasi kerja dengan cara manajer dan karyawan menetapkan tujuan (goals) secara bersama-sama. Tujuan utama teknik ini adalah untuk mengklarifikasi aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh karyawan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Dengan melibatkan karayawan dala penyusunan tujuan perusahaan, para karyawan akan merasa dihargai dan lebih menyadari bahwa mereka adalah bagian penting dari perusaan. Permasalahan utama MBO adalah MBO tidak dapat dilaksanakan kecuali jika prosesnya berawal dari puncak organisasi. Dalam sejumlah kasus, MBO mengakibatkan kerja administratif yang berlebihan. Di samping itu, bersama-sama karyawan dan lebih berkenan untuk menetapkan tujuan bagi mereka. Yang terakhir, program-program MBO ternyata sulit diimplementasi kecuali jika tujuan-tujuannya dapat dikuantitatifkan.
         MBO terbukti merupakan alat motivasi yang efektif pada banyak organisasi. Tenneco, Black & Decker, Du Pont, General Foods, RCA, dan General Motors semua melaporkan keberhasilan mereka dalam mengimplementasikan MBO. Tetapi seperti halnya dengan setiap teknik manajemen yang lain, MBO harus diaplikasi dengan hati-hati dan dengan semangat yang benar jika diinginkan hasil yang baik.

b.      Program Pengayaan pekerjaan (Job Enricment Programs)
         Program pengayaan pekerjaan adalah usaha untuk meningkatkan motivasi karyawan dengan cara memberikan variasi dalam pekerjaannya. Misalnya rotasi kerja. Rotasi kerja menyebabkan karyawan dapat merasakan suasana baru, mendapatkan lebih banyak pengalaman dan pengetahuan, terutama mengenai organisasi tempatnya bekerja, sehingga rotasi ini juga berguna untuk menghilangkan kejenuhan karyawan yang dalam jangka panjang dapat menurunkan motivasi kerja. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan rotasi ini adalah karyawan yang sulit beradaptasi. Karan tiap  manusia itu unik, akan ada karyawan yang merasa bahwa program ini membuatnya bekerja dengan kurang optimal.

c.       Program Desain-Ulang Pekerjaan (Job Redesign Programs)
         Program desain-ulang pekerjaan adalah usaha untuk meningkatkan motivasi karyawan dengan cara memodifikasi terhadap pekerjaan karyawannya. Program ini diilhami dari pengakuan bahwa setiap orang menginginkan sesuatu yang berbeda dari pekerjaannya. Perusahaan yang melakukan program ini biasanya memilih satu dari tiga cara di bawah ini:
·           Memperkaya Pekerjaan
Misalnya seorang karyawan yang pekerjaannya membuat donat dapat diberi tambahan tanggung jawab untuk merencanakan model kardus yang digunakan untuk membungkus donat tersebut. Dengan begitu, si pembuat donat tersebut tidak akan jenuh dengan pekerjaannya karena ia memikiki hal baru yang menjadi tanggungjawabnya.
·           Membentuk Kelompok Kerja
Pembentukan kelompok kerja dapat memotivasi karyawan karena dengan pembentukan kelompok ini para karyawan menjadi lebih tahu bahwa ia sangat berkontribusi dalam memajukan perusahaannya.
·           Mengembangkan Hubungan Dengan Klien
Mengembangkan hubungan dengan klien berarti membiarkan para karyawan berinteraksi dengan konsumen, sehingga mereka akan mendapatkan penilaian langsung dari orang yang mengonsumsi hasil kerja mereka.

d.      Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku dilakukan untuk mengubah perilaku karyawan dengan cara memberikan penghargaan (reward) kepada mereka yang bekerja dengan baik dan hukuman (punishment)  kepada mereka yang bekerja dengan buruk. Universitas Gajah Mada contohnya, universitas tersebut memberikan insentif berupa bonus kepada karyawannya yang datang tepat waktu dan melakukan pemotongan gaji terhadap para karyawan yang datang terlambat.
            Setelah pemberian penghargaan atau hukuman, dilakukan tindak lanjut untuk mengoreksi sistem ini. Jika target yang dicanangkan (perubahan perilaku yang signifikan) dalam penerapan sistem ini tidak terpenuhi, maka dilakukan pengubahan terhadap sistem tersebut. Para ahli menyarankan kepada manajer agar memberi penghargaan terhadap kualitas, loyalitas, dan produktivitas.

e.       Flextime
Flextime adalah sistem yang memberikan kebebasan kepada para karyawan untuk menentukan jam kerjanya. Dalam sistem jam kerja dibedakan menjadi core time dan flexible time. Core time adalah jam kerja wajib bagi karyawan, sementara flexible time adalah jam kerja tambahan yang dapat dipilih waktunya oleh karyawan.
f.       Telecommuting
Telecommuting adalah model kerja di mana karyawan memperoleh fleksibilitas bekerja dalam hal tempat dan waktu kerja dengan bantuan teknologi telekomunikasi. Komputer, modem, mesin fax, telepon genggam, dan internet adalah beberapa contoh sarana yang digunakan dalam model kerja ini.

g.      Pembagian Pekerjaan (Job Sharing)
Pembagian pekerjaan adalah usaha untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan dengan cara mengizinkan karyawan untuk membagi pekerjaannya dengan karyawan lain.[6]



B.       KEPUASAN KARYAWAN

1. Pentingnya Kepuasan dan Moral

     Pengertian kepuasan dalam bekerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini nampak pada sikap karyawan terhadap pekerjaannya, sikap positif bila puas atau sikap negatif bila tidak puas.
            Keidakpuasan karyawan dapat dinyatakan dalam berbagai cara. Misalnya berhenti bekerja, karyawan mengeluh, tidak patuh, atau mengelakkan sebagian dari tanggung jawab kerjanya. Sementara kepuasan kerja merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap karyawan di tempat kerjanya. Adanya karyawan yang puas membuat moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Untuk itu sudah menjadi keharusan bagi perusahaan untuk menciptakan kepuasan kerja para karyawannya.
Jadi kesimpulannya adalah kepuasan dan moral sangat saling berhubungan, karena ketika diri setiap individu tidak merasa puas terhadap hasil kinerjanya di perusahaan, maka akan berdampak pada moral setiap individu tersebut. Baik dan buruknya Moral setiap individu bergantung pada kepuasan yang diperoleh.

2.  Strategi untuk meningkatkan Kepuasan dan Moral Kerja
     Untuk strategi meningkatkan kepuasan dan moral kerja karyawan, perusahaan-perusahaan biasanya mencoba untuk membuat dan mengimplementasikan berbagai jenis program yang dirancang untuk membuat pekerjaan menjadi lebih menarik, sehingga dapat meningkatkan kepuasan dan moral kerja dari karyawan.
            Progaram-program yang dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan kepuasan dan moral dari karyawan antara lain:
1.      Menaikan upah karyawan.
2.      Memberikan kenaikan jabatan kepada karyawan yang berprestasi.
3.      Kepastian kerja
4.      Memberikan bonus uang tunai kepada karyawan yang berkinerja baik dalam perusahaan.
5.      Memberikan kompensasi kepada karyawan
6.      Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis[7]


C.           MEMIMPIN KARYAWAN

1.      Pemimpin dan Manajer
Pemimpin tidak sama dengan manajer. Seseorang bisa menjadi manajer, pemimpin, keduanya, atau mungkin bukan keduanya. Manajer adalah seorang yang memberi perintah dan mengatur bawahannya untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan pemimpin adalah seseorang yang memotivasi, menginspirasi, dan memengaruhi perilaku orang lain.
Seorang manajer memiliki wewenang untuk menugasi bawahannya karena ia berada pada posisi yang mengharuskannya melakukan hal tersebut. Sementara pemimpin tidak lahir dari posisinya. Seorang pemimpin muncul karena perintah-perintahnya dihormati dan dilaksanakan oleh orang lain. Dalam sebuah perusahaan, sosok pemimpin dan manajer sangatlah penting. Tanpa manajer para karyawan akan bingung dalam menjalankan tugasnya, dan tanpa pemimpin para karyawan kurang termotivasi sehingga tidak akan mampu menunaikan tugasnya dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, sebaliknya seorang manajer adalah juga memahami teori yang berisi konsep-konsep tentang kepemimpinan, serta mempunyai keterampilan (skill) untuk memimpin. Konsep-konsep ini dapat meningkatkan kemampuan seorang manajer dalam melaksanakan fungsinya.[8]

2.      Konsep mengenai Kepemimpinan (Griffin)
a.       Kepemimpinan sebagai proses
   
Kepemimpinan adalah “suatu proses yang kompleks dimana seseorang mempengaruhi orang-orang lain untuk menunaikan suatu misi, tugas, atau tujuan dan mengarahkan organisasi yang membuatnya lebih kohesif dan koheren." Mereka yang memegang jabatan sebagai pemimpin menerapkan seluruh atribut kepemimpinannya (keyakinan, nilai-nilai, etika, karakter, pengetahuan, dan ketrampilan). Jadi seorang pemimpin berbeda dari majikan, dan berbeda dari manajer. Seorang pemimpin menjadikan orang-orang ingin mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi, sedangkan seorang majikan menyuruh orang-orang untuk menunaikan suatu tugas atau mencapai tujuan. Seorang pemimpin melakukan hal-hal yang benar, sedangkan seorang manajer melakukan hal-hal dengan benar (Leaders do right things, managers do everything right).
                       
b.      Kepemimpinan sebagai atribut

 Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak.

3.      Pendekatan Mengenai Kepemiminan

Pendekatan Mengenai Kepemimpinan ada 3 :
a.         Pendekatan Personal (Personal Traits of Leadership Approach)

1)         Pemimpin dan Bukan Pemimpin:
·         Ambisisi dan energi
·         Hasrat unuk memimpin
·         Kejujuran dan keutuhan
·         Percaya diri dan tegas
·        Kecerdasan dan pengetahuan yang relevanndengan pekerjaan

2)         Pemimpin Efektif dan Pemimpin Tidak Efektif
 I.          Yang Efektif :
·         Gaya terpadu (integrated) menjadi Gaya Eksekutif
·         Gaya yang mendahulukan hubungan menjadi Gaya yang lebih mencintai Pengembangan(developer)
·        Gaya dedikatif menjadi Gaya Otokrat baik (benevolent autocrat)
·         Gaya mandiri menjadi Gaya Birokrat.
                                                                                                                                        II.        Yang Tidak Efektif :
       ·         Gaya terpadu (integrated) menjadi Gaya Kompromi (compromiser)
·         Gaya yang mendahulukan hubungan menjadi Gaya Missionaris
·         Gaya dedikatif menjadi Gaya Otokratik
·         Gaya mandiri menjadi Gaya yang lari dari tugas (desserter).

b.        Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)

Fokus dari Pendekatan Perilaku :

1. Fungsi-fungsi Kepemimpinan (leadership functions):
a.       fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan (task-related functions)
b.      fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau pemeliharaan kelompok(group-maintanance functions).


2. Gaya Kepemimpinan (leadership styles):
a.      Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan (task-oriented or job-style)
b.     Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai atau orang-orang (employee-oriented style).


c.         Pendekatan kontingency.

1.      Model Kepempinan Situasional : Hersey – Blanchard

Teori yang memusatkan perhatian pada kesiapan pengikut.
Teori ini lahir karena semua teori yang ada berdasarkan survey pada pengikut, sehingga pengikut / bawahan yang perlu dikelola. Dasarnya adalah Mampu dan mau dari bawahan.

2.      Model FIEDLER
·      Kelompok yg efektif bergantung pada gabungan antara gaya interaksi dari sipemimpin dan bawahannya serta sampai tingkat mana situasi itu memberi kendali dan pengaruh bagi si pemimpin.     Fiedler menggunakan kuestioner untuk cari relasi antar hubungan dengan penugasan dari pimpinan.  3 faktor kontingensi yang perlu dipertimbangkan dalam model fiedler:
1.      relasi pemimpin-bawahan  (leader-member relation)
2.      struktur pekerjaan (task-structure),
3.      peran kekuasaan  (power position)

3.      Model Jalan Tujuan (Path-Goal Theory)
·        Teori yang mengemukakan bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu para pengikut dalam  mencapai tujuan-tujuan mereka dan untuk memberi pengarahan yang dibutuhkan dan/atau dukungan untuk memastikan bhwa tujuan mereka selaras dengan organisasi.2 hal yang perlu diperhatikan
·         Perilaku Pemimpin
perilaku yg harus dimiliki pemimpin :
1.      Pemimpin hanya mengarahkan dan membiarkan bawahan.
2.      Pemimpin suportif dan ramah.
3.      Pemimpin partisipatif dan berkonsultasi ke bawahan.
4.      Pemimpin berorientasi prestasi.
·         Faktor Situasi
 
4.      Model Vroom-Yetton-Jago
Model Pemimpin Partisipasi
Victor Vroom dan Philip Yetton mengembangkan sebuah model pemimpin partisipasi  Suatu teori yg isinya satu set peraturan yg akan menentukan bentuk dan jumlah pembuatan keputusan partisipatif dalam berbagai situasi dan kondisi yg berbeda beda.

4.      Pendekatan lain mengenai Kepemimpinan

1.      Kepemimpinan/Pendekatan Substitusi / transaksional
     Pemimpin yang membimbing atau memotivasi para pengikut mereka pada arah tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka.
2.      Kepemimpinan Karismatik
Pemimpin yang karismatik menunjukkan 4 karakteristik :
I.        Visi.
II.      Bersedia mengambil risiko pribadi untuk mencapai visi tersebut.
III.      Sensitif terhadap kebutuhan bawahan.
IV.      Memiliki perilaku yang luar biasa.

3.      Kepemimpinan Transformatif
     Tipe pemimpin seperti ini mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka. Pemimpin transformasional (transformational leaders) menginspirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka demi kebaikan organisasi dan mereka mampu memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri para pengikutnya.[9]




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kepemimpinan dan motivasi merupakan dua hal yang berbeda, meski memiliki tautan dalam konteks kerja dan interaksi antar-manusia organisasional. Keith Davis mengemukakan bahwa tanpa kepemimpinan, organisasi hanya merupakan kelompok manusia yang kacau, tidak teratur, dan tidak akan dapat melahirkan perilaku bertujuan. Kepemimpinan adalah faktor manusiawi yang mengikat suatu kelompok bersama dan memberinya motivasi menuju tujuan-tujuan tertentu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ini berarti antara kepemimpinan dengan motivasi memiliki ikatan yang kuat.
Dari rumusan tadi, keterkaitan antara kepemimpinan dengan motivasi dapat dianalisis sebagai berikut:
1.      Tanpa kepemimpinan, organisasi tidak lain adalah sekelompok manusia yang kacau. Manusia organisasional, baik dalam kapasitas masing-masing dan terutama sebagai anggota kelompok, dituntut dapat memacu upaya pencapaian tujuan organisasi yang sekaligus bagian dari tujuan dirinya. Kehadiran pemimpin memungkinkan manusia organisasional dimotivasi untuk dapat bekerja secara efektif dan efisien. Kelompok dengan sistem yang kurang padu dapat menurunkan produktifitas organisasi. Atas dasar itu, manusia organisasi perlu diarahkan dan dimotivasi oleh pemimpinnya agar dapat bekerja secara efektif dan efisien, dengan akuntabilitas tertentu.
2.          Kepemimpinan berkaitan dengan kepengikutan.
Kepengikutan (followership) adalah bagian yang paling  dalam usaha melahirkan perilaku organisasi yang sesungguhnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pada hakikatnya kepemimpinan adalah kepengikutan (leadership is follower). Istilah ini adakalanya diberi makna luas, bahwa pemimpin yang baik dihasilkan dari pengikut yang baik. Manusia pengikut di sini tidak dapat dipersepsi sebagai robot, Melainkan mereka adalah manusia biasa yang memiliki perasaan, kebutuhan, harapan, dan aspek manusiawi lainnya. Tanpa pemahaman terhadap aspek-aspek manusiawi yang dipimpin, kepemimpinan akan gagal.
3.     Kepemimpinan mengandung arti kemampuan memotivasi.    
Kompetensi bawahan antara lain tercermin dari motivasi kerjanya. Dia bekerja disebabkan oleh dua kemungkinan, yaitu benar-benar terpanggil untuk berbuat atau karena diharuskan untuk melakukan tugas-tugas itu. Banyak faktor yang mempengaruhi motivasi manusia dalam bekerja, antara lain bahwa manusia mempunyai seperangkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan yang paling dasar (biologis) sampai kepada taraf kebutuhan paling tinggi, aktualisasi diri. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang adalah gaya kepemimpinan. Dengan demikian, kepemimpinan dapat pula berarti kemampuan memberi motivasi kepada bawahan.
Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu. Memengaruhi motivasi seseorang berarti membuat orang tersebut melakukan apa yang kita inginkan. Karena fungsi utama dari kepemimpinan adalah untuk memimpin, maka kemampuan untuk memengaruhi orang adalah hal yang penting.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaannya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati sealalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri sesorang. Kepemimpinan lahir dari sesorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.




                                       
[3]Sunardi, Anita Primastiwi, Pengantar Bisnis,(Yogyakarta: PT Buku Seru, 2015),hlm. 131.  
[4]Ibid,. Hlm.132-136.
[5]Ibid,. Hlm.136-137.
[6]Ibid,. Hlm.137-140.
[8] Sunardi, Anita Primastiwi, Pengantar Bisnis,(Yogyakarta: PT Buku Seru, 2015),hlm. 141-142.